Thursday, March 19, 2009

Adab Berpakaian (1)

Posted: 24 Feb 2009 11:19 PM PST

Pakaian merupakan salah satu nikmat sangat besar yang Allah berikan kepada para hambanya, Islam mengajarkan agar seorang muslim berpakain dengan pakaian islami dengan tuntunan yang telah Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Berikut ini adalah adab-adab berkenaan dengan berpakaian yang sepantasnya diketahui oleh seorang muslim.

Mendahulukan yang Kanan

Di antara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mendahulukan yang kanan ketika memakai pakaian dan semacamnya. Dalil pokok dalam masalah ini, dari Aisyah Ummul Mukminin beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam redaksi muslim dikatakan, “Rasulullah menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala urusan, ketika memakai sandal, bersisir dan bersuci.”

Mengomentari hadits di atas, Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini mengandung kaidah baku dalam syariat, yaitu segala sesuatu yang mulia dan bernilai maka dianjurkan untuk mendahulukan yang kanan pada saat itu semisal memakai baju, celana panjang, sepatu, masuk ke dalam masjid, bersiwak, bercelak, memotong kuku, menggunting kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, menggundul kepala, mengucapkan salam sebagai tanda selesai shalat, membasuh anggota wudhu, keluar dari WC, makan dan minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang berkebalikan dari hal yang diatas dianjurkan untuk menggunakan sisi kiri semisal masuk WC, keluar dari masjid, membuang ingus, istinjak, mencopot baju, celana panjang dan sepatu. Ini semua dikarenakan sisi kanan itu memiliki kelebihan dan kemuliaan.” (Syarah Muslim, 3/131)

Adab Memakai Sandal

Yang sesuai sunnah berkaitan dengan memakai sandal adalah memasukkan kaki kanan terlebih dahulu baru kaki kiri. Ketika melepas kaki kiri dulu baru kaki kanan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian memakai sandal, maka hendaklah dimulai yang kanan dan bila dicopot maka hendaklah mulai yang kiri. Sehingga kaki kanan merupakan kaki yang pertama kali diberi sandal dan kaki terakhir yang sandal dilepas darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan Hanya Memakai Satu Sandal

Demikian pula seorang muslim dimakruhkan hanya menggunakan satu buah sandal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika tali sandal kalian copot maka janganlah berjalan dengan satu sandal sehingga memperbaiki sandal yang rusak.” (HR. Muslim)

Demikian pula dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian berjalan menggunakan satu sandal. Hendaknya kedua sandal tersebut dilepas ataukah keduanya dipakai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perlu diketahui bahwa dua hal di atas hukumnya adalah dianjurkan dan tidak wajib. Oleh karena itu, orang yang mendapatkan masalah dengan alas kakinya karena tali sandal copot maka hendaknya berhenti sejenak untuk memperbaiki sandal tersebut untuk melepas semua sandal lalu melanjutkan perjalanan. Tidak sepantasnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun hukumnya makruh dan tidak sampai derajat haram. Hendaknya kita berlatih dan membiasakan diri untuk mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan bathin sehingga mendapatkan kemuliaan karena ittiba’ dengan sunnah Nabi secara hakiki.

Sebenarnya, makna eksplisit dari larangan memakai satu sandal adalah menunjukkan hukum haram andai tidak terdapat pernyataan Imam Nawawi yang mengklaim bahwa memakai dua sandal sekaligus itu disepakati sebagai perkara yang dianjurkan dan tidak wajib. Dalam Riyadhus Shalihin beliau memberi judul untuk hadits-hadits di atas dengan hukum makruh saja. Maka keabsahan nukilan ini perlu dikaji dengan lebih seksama jika ternyata tidak benar maka makna eksplisit larangan dan berbagai penjelasan ulama tentang motif larangan ini menunjukkan bahwasanya menggunakan satu alas kaki saja itu hukumnya haram.

Perkataan Para Ulama Tentang Sebab Pelarangan Tersebut

Mengenai larangan berjalan dengan satu sandal, para ulama memberikan beragam keterangan tentang motif Nabi dengan larangan tersebut. Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama mengatakan sebab larangan tersebut adalah karena menyebabkan pemandangan yang tidak pantas dilihat. Nampak cacat dan menyelisihi sikap wibawa. Di samping itu, kaki yang bersandal jelas lebih tinggi daripada kaki yang lain. Hal ini tentu menimbulkan kesulitan saat berjalan. Bahkan boleh jadi menyebabkan terpeselet. (Syarah Muslim, 14/62)

Sedangkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 10/309-310 mengatakan, “Al-Khithabi menyatakan bahwa hikmah larangan menggunakan satu sandal adalah karena itu berfungsi menjaga kaki dari gangguan duri atau semisalnya yang ada di tanah. Jika yang bersandal hanya salah satu kaki maka orang tersebut harus ekstra hati-hati untuk menjaga kaki yang lain, satu hal yang tidak perlu dilakukan untuk kaki yang bersandal. Kondisi ini menyebabkan gaya berjalan orang ini tidak lagi lumrah dan tidak menutup kemungkinan dia bisa terpeleset. Ada yang berpendapat hal itu dilarang karena tidak bersikap adil terhadap anggota badan dan boleh jadi orang yang berjalan dengan satu sandal dinilai oleh sebagian orang sebagai orang yang akalnya bermasalah. Sedangkan Ibnul Arabi mengatakan, “Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut terlarang karena itu merupakan gaya setan berjalan. Ada pula yang berpendapat karena sikap tersebut merupakan sikap yang tidak wajar dan lumrah. Di sisi lain, Al-Baihaqi berkomentar bahwa hukum makruh karena memakai satu sandal adalah disebabkan hal tersebut merupakan pemicu popularitas. Banyak mata akan tertarik memandangi orang yang berperilaku aneh seperti itu dan terdapat hadits yang melarang pakaian yang menyebabkan popularitas. Karenanya segala sesuatu yang menyebabkan popularitas sangat berhak untuk dijauhi.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan menggunakan satu sandal.” (HR. Thahawi dalam Musykil Al-atsar, Al-Albani mengatakan setelah menyebutkan sanadnya ini adalah sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah orang-orang yang tsiqah, perawi yang dipakai dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim selain ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi namun beliau juga seorang yang kredibel.” (Silsilah shahihah no. 348). Dengan hadits ini jelaslah bagi kita motif dari larangan Nabi untuk berjalan dengan satu sandal karena itulah gaya berjalannya setan. Jika demikian, maka kita tidak perlu memaksa-maksakan diri dan mencari-cari motif pelarangan.

Termasuk Sunnah Adalah Kadang-kadang Berjalan Tanpa Alas Kaki

Namun perlu diketahui bahwa termasuk sunnah Nabi adalah berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang, dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pergi menemui Fudhalah bin Ubaid yang tinggal di Mesir. Setelah tiba dia berkata kepada Fudhalah, “Kedatanganku ini bukanlah dengan maksud berkunjung akan tetapi aku mendengar demikian pula engkau sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berharap engkau memiliki ilmu tentangnya. Fudhalah bertanya, “Hadits apa yang engkau maksudkan?” Orang tadi mengatakan, “Demikian dan demikian,” Orang tersebut lalu bertanya, “Kenapa ku lihat rambutmu tidak tersisir rapi padahal engkau adalah seorang penguasa.” Fudhalah mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah melarang kami untuk terlalu sering bersisir.” “Lalu mengapa aku tidak melihatmu memakai sandal?” Tanya orang tersebut. Fudhalah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk kadang-kadang berjalan tanpa alas kaki.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albani)

***

Penulis: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Rahasia di Balik Sakit

Posted: 23 Feb 2009 12:19 AM CST

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

***

Penulis: Abu Hasan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Rahasia di Balik Sakit

Posted: 23 Feb 2009 12:19 AM CST

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

***

Penulis: Abu Hasan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (3)

Posted: 20 Feb 2009 02:24 AM CST

Ketentuan yang Perlu Diketahui Tentang Ibadah

Seseorang yang berada dalam kesulitan ia akan menempuh segala jalan yang mungkin menjanjikan keselamatan, bagaikan seorang yang dibawa air bah, ia akan berpegang kepada apa saja sekalipun akan berpegang kepada ekor ular. Itu perumpamaan yang diberikan oleh nenek moyang kita di masa dulu. Sehingga sampai pada titik melakukan sesuatu ibadah yang tidak ada aturannya dalam syariat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sanak saudara kita pada tgl 7 April 2005 dengan melakukan shalat Dhuha secara berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan di jahrkan (dikeraskan -red), perbuatan ini timbul mungkin karena kurangnya ilmu. Sebaiknya kalau tidak tahu kenapa tidak mau bertanya kepada orang yang lebih tahu?

Allah perintahkan:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43)

Bahkan Allah melarang kita untuk melakukan sesuatu urusan yang kita tidak memiliki ilmu tentang hal itu:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati kesemuanya itu akan ditanya.” (QS. Al Israa’: 36)

Mempercayakan suatu urusan kepada seorang yang bukan ahlinya maka kehancuranlah yang akan tiba. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang bukan ahlinya maka kehancuranlah yang akan datang.” (HR. Imam Muslim no. 59)

Dalam urusan dunia saja kita tidak bisa mempercayakan sebuah urusan kepada yang bukan pakarnya, Apabila kita sakit gigi umpamanya kita akan berobat kepada dokter spesialis gigi, bukan kepada dokter umum, begitu pula bila butuh kepada seorang tenaga ahli tentang kelistrikan umpamanya, maka orang yang akan kita cari adalah orang yang berpendidikan dalam bidang tersebut, serta mendapat pengakuan dari orang-orang yang berkompeten dalam bidang tersebut. Tapi suatu hal sangat aneh dan mengherankan kenapa seseorang dalam urusan agama begitu percaya kepada siapa saja yang penting pintar bercerita dan berceloteh memakai jubah dan sorban, sudah dianggap kiai atau wali. Dan yang lebih menyedihkan sekali kalau ada pula orang yang lebih bangga mendalami Islam ke negara kafir, lalu pulang mempretel hukum-hukum Islam yang sudah baku dengan seketika langsung disanjung dan mendapat predikat intelek. Sedangkan untuk merubah sebuah UUD saja butuh kepada berbagai pertimbangan dan penelitian serta memakan waktu yang cukup lama. Tapi satu hal yang sangat menakjubkan dan mengherankan kenapa dalam merubah hukum-hukum Allah setiap orang berani melakukannya tanpa ada rasa ragu dan malu. Apakah Mereka lebih menghormati UUD bikinan manusia dari hukum-hukum yang diturunkan Allah?

Atau karena ada niat dari belakang itu untuk mencapai sebuah ketenaran, pangkat dan jabatan. Sungguh merugi sekali orang yang menjual agamanya dengan secuil kesenangan duniawi.

Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ . أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dalamnya tidak dirugikan sedikitpun. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat segala apa yang mereka usahakan di dunia serta sia-sialah segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Dalam ayat lain disebutkan:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالآَخِرَةِ فَلاَ يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ

“Mereka itu orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka tidak akan diringankan siksaan mereka dan mereka juga tidak akan ditolong.” (QS. Al Baqarah: 86)

Atau mungkin karena merasa sudah sampai kepada tingkat wali, sehingga sudah berhak untuk membikin cara-cara tersendiri dalam agama?! kalau merasa sebagai wali tentu tidak ada yang bisa melebihi kewalian para Khalifah Rasyidin tapi tidak seorangpun di antara Mereka yang melakukan hal seperti itu.

Maka tidak ragu lagi bahwa perbuatan tersebut adalah kesesatan yang dibikin-bikin dalam agama. Kekeliruan yang terdapat dalam perlaksanaan shalat tersebut sangat banyak diantaranya;

1. Tidak adanya tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha dalam bentuk berjamaah. Para ulama menerangkan bahwa asal dari shalat-shalat sunat itu dikerjakan sendiri-sendiri, terkecuali shalat ‘Ied, shalat Istisqa (minta hujan), shalat gerhana dan shalat tarawih, adapun shalat Dhuha tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat melakukannya secara berjamaah.
2. Tidak adanya tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha di lapangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bahwa seafdhal-afdhal shalat manusia adalah di rumah kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 698. dan Muslim no. 781). Terkecuali shalat ‘Ied dan Istisqa.
3. Tidak adanya tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjahrkan (mengeraskan) bacaan dalam shalat Dhuha. Yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengsirkan bacaan (tidak dikeraskan). Adapun ayat yang dibaca adalah surat Al Kafiruun pada rakaat pertama dan surat Al Ikhlas pada rakaat yang kedua.
4. Tidak adanya anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya melakukan shalat Duha sa’at ditimpa bencana atau musibah gempa atau yang serupa.
5. Tidak ada seorangpun ulama dari sepanjang masa dari seluruh mazhab yang berpendapat seperti itu.

Oleh sebab itu para ulama menegaskan; “Bahwa asal melakukan suatu ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang memerintahkan, dan asal dalam suatu muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkan”. Dalam ungkapan lain Mereka tegaskan: “bahwa dalam urusan ibadah tidak ada perkara ijtihad, berbeda dengan urusan muamalah maka dalamnya ada perkara ijtihad selama tidak ditemukannya dalil yang telah memutuskan hukumnya.” Atau di sebut juga dalam ungkapan lain bahwa urusan ibadah adalah Tauqifiyah (tergantung kepada adanya dalil dari al-Qur’an atau Sunnah memerintahkannya)

Pernyataan ulama di atas didukung oleh banyak dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, berikut kita sebutkan sebagian kecil saja di antara dalil-dalil tersebut.

1. Firman Allah yang berbunyi:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah: 3)

Dalam ayat di atas Allah tegaskan bahwa agama ini telah sempurna, maka tidak butuh lagi untuk di tambah-tambah oleh siapapun. Sesuatu yang telah sempurna bila ditambah akan menjadi rusak. Contoh; sebuah adonan kue yang sudah pas ukuran bahan-bahannya, lalu ada orang yang iseng menambah salah satu bahan kue tersebut, maka rasa kue akan rusak. Oleh sebab itu para ulama men-cap orang yang melakukan bid’ah sebagi orang perusak.

2. Firman Allah yang berbunyi:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah: Maukah kamu, kami beri tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatanya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedang Mereka mengira; bahwa Mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Para ulama tafsir mengomentari ayat ini bahwa isinya menggambarkan perbuatan orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama. yang mana Mereka mengira apa yang Mereka lakukan itu amat baik sekali, tetapi yang sebenarnya adalah kerugian, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kerugian di dunia buang-buang tenaga dan waktu, adapun kerugian di akhirat mendapat azab dari Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Mereka telah berbohong atas nama Allah serta telah menyesatkan orang banyak.

3. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: “Barang siapa yang menambah-nambah dalam urusan(agama) kami ini apa yang tidak termasuk ke dalamnya, maka amalannya ditolak.” Dalam lafatz yang lain berbunyi: “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak termasuk dalam urusan (agama) kami, maka amalannya ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: “Hati-hatilah kalian terhadap berbagai hal yang baru dalam agama, sesungguhnya setiap yang baru dalam agama itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (lihat: Khutbatulhaajah Al Albany)

5. Perkataan Imam Malik: “Barang siapa yang melakukan bid’ah berarti dia telah menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhianat dalam menyampaikan risalah.”

Oleh sebab itu para ulama selalu menegaskan dalam kitab-kitab Mereka bahwa sebuah amalan tidak akan diterima kecuali telah terpenuhinya dua syarat;

Pertama: Ikhlas kepada Allah ta’ala.

Kedua: Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bila salah satu dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi maka ibadah seseorang tersebut tidak akan diterima Allah. (lihat: Tafsir Ibnu Katsir: 1/155)

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Fudhail bin ‘Iyadh dalam menafsirkan firman Allah:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Yang menciptakan kematian dan kehidupan, Supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang terbaik amalannya.” (QS. Al Mulk: 2)

Kata Imam Fudhail: “Amalan yang terbaik itu adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Lalu ia ditanya: apa bentuknya yang paling ikhlas dan paling benar? Imam Fudhail menjawab: sesungguhnya sebuah amalan bila ikhlas tetapi tidak benar tidak akan diterima, begitu pula bila sebuah amalan benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai menjadi ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah bila semata ditujukan bagi Allah, dan yang benar adalah bila dilakukan menurut Sunnah.” (lihat: Daqaiq Tafsir 2/170)

Mungkin seseorang akan berkata: inikan bid’ah hasanah, jawabnya adalah: tidak ada bid’ah hasanah dalam agama, sebagaimana yang terdapat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah kita sebutkan di atas bahwa seluruh bi’ah adalah sesat. Kalau ada bid’ah yang hasanah dalam agama tidak ada lagi bid’ah dalam agama, karena setiap pelaku bid’ah menganggap bid’ah yang dilakukannya adalah hasanah.

Atau seseorang akan berdalil pula dengan perbuatan khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika ia mengumpulkan kaum muslimin shalat tarawih secara berjamaah. jawabannya: shalat tarawih berjamaah bukan pertama kali dilakukan pada waktu kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu, tetapi sudah ada pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah beliau melakukannya beberapa malam lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya karena takut akan turun wahyu yang mewajibkannya. Seandainya kita anggap hal itu baru pertama kali dilakukan pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu. Tetapi kita disuruh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikut Sunnahnya para khalifah Rasyidin dengan sabda beliau: “Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perpecah-belahan yang banyak, maka ikutilah oleh kalian Sunnahku dan Sunnah para Khalifah Rasyidin“. Begitu pula halnya dengan azan kedua pada hari Jum’at yang diadakan pada masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan.

Apakah orang-orang selain Mereka mendapat mandat dari Rasulullah untuk diikuti bila Mereka melakukan bid’ah dalam agama? Jawabnya: pasti tidak.

Sebagai penutup dengarlah nasihat Imam Fudhail bin ‘Iyadh: “Tetaplah kamu di atas jalan kebenaran, janganlah kamu merasa asing karena sedikit orang yang melaluinya. Jauhilah olehmu jalan kebatilan, Jangan kamu tertipu karena banyaknya orang yang binasa.”

Kami cukupkan sampai di sini mudah-mudahan ada manfaatnya bagi penulis sendiri begitu juga bagi para pembacanya, bila anda merasakan tulisan ini bermanfaat bagikanlah kepada siapa yang ingin memilikinya.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurang dari pahala Mereka sedikitpun.” (HR. Imam Muslim no. 2674)

Shalawat dan salam buat Nabi kita, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang berpegang teguh dengan ajarannya sampai hari kiamat.

Madinah Al Munawwarah, Jum’at, 8 April 2005 M, Bertepatan dengan 29 Safar 1426 H

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

ShareThis

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (2)

Posted: 20 Feb 2009 02:12 AM CST

Menyuruh Kepada yang Mungkar Mencegah dari yang Ma’ruf Adalah Sikap Orang-Orang Munafik

Sikap menentang dan menolak kebenaran atau kebiasaan menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari berbuat ma’ruf adalah tingkah laku orang-orang munafik. Sebagaimana yang Allah terangkan dalam firman-Nya:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian mereka dari bagian yang lainnya, Mereka menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari yang ma’ruf.” (QS. At Taubah: 67)

Hendaklah orang yang suka mempermainkan ayat-ayat tentang wajibnya berhijab merenungkan ayat di atas apakah anda termasuk yang menyuruh kepada yang makruf atau menyuruh kepada yang mungkar?

Sebagian manusia ada yang pintar dalam bersilat lidah ketika mereka diajak untuk mengikuti kebenaran dan berhenti dari melakukan kerusakan. Sehingga akibat dari tindakannya tersebut telah terjadi kerusakan dalam segala jaring kehidupan. Bahkan kerusakan yang ditimbulkannya tidak hanya terbatas pada manusia semata tapi menimpa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang melata. Sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ{204} وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيِهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ . وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, pada hal ia adalah penentang yang keras. Dan apabila dia berpaling (dari kamu) ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan di atasnya, ia merusak tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusakan. Dan bila dikatakan (kepadanya): Takutlah kamu kepada Allah”, bangkit kesombongannya yang menyebabkannya (semakin) berbuat dosa, maka cukuplah neraka jahanam baginya, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Al Baqarah: 204-206)

Orang yang suka menyebarkan pemikiran keji serta menginginkan tersebarnya kekejian tersebut di kalangan orang-orang yang beriman Allah telah menyediakan balasan yang setimpal untuk Mereka di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang suka untuk tersiarnya kekejian di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nuur: 19)

Masihkah belum cukup ancaman di atas bagi orang yang suka membikin cerita-cerita porno, memperjualbelikan CD porno, menayangkan film-film porno?

Betapa banyak orang yang telah menikmati kemaksiatan yang anda sebar, sebanyak itu pula dosa yang harus anda pikul.

Allah berfirman:

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالاً مَّعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُون

“Dan Sesungguh Mereka akan memikul dosa-dosa Mereka dan dosa-dosa orang (yang Mereka sesatkan dan Mereka akan ditanya terhadap apa yang Mereka dustakan.” (QS. Al Ankabuut: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dalam sabdanya: “Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan dia akan mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari dosa-dosa Mereka sedikitpun.” (HR. Imam Muslim no: 2674)

Bencana Adalah Buah Dosa Perbuatan Manusia

Allah telah berulang kali memberikan teguran kepada bangsa kita, tapi sedikit di antara kita yang mampu menimba kesadaran dari itu semua. Yang masih segar dalam pandangan dan ingatan kita gempa dan tsunami yang memorak-porandakan beberapa negara, tentu yang sangat terkesan sekali di hati kita apa yang berada di samping kita yaitu Aceh dan gempa Nias, tapi apakah hal itu membuat kita semakin tunduk kepada kebesaran Allah? Atau sebaliknya?!

Bumi yang kita pijak, udara yang kita hirup, air yang kita minum setiap detik kita pergunakan dalam rangka melakukan maksiat kepada Allah. Lupakah kita dengan firman Allah:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan: Jika kamu bersyukur, sungguh Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan tetapi jika kamu mengkufuri (nikmat tersebut) sesungguhnya azabKu amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Dan firman-Nya lagi:

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ

“Allah tidak akan mengazabmu jika kamu bersyukur dan beriman.” (QS. An Nisaa’: 147)

Segala fasilitas yang diberikan Allah, kita manfaatkan untuk durhaka pada-Nya mulai dari mata, telinga dan lidah kita pergunakan untuk hal yang haram, untuk film-film, nyanyi-nyanyian dan berkata bohong. Makan dan minum serta pakaian kita bersumber dari usaha yang haram, mungkin dari hasil rampokan, pembunuhan, korupsi, kolusi, sogok, atau hasil tipuan, lacuran, judi, penjualan CD porno dan seterusnya. Itulah diri kita, apakah kita tidak pantas untuk diazab? Di mana Allah akan mengabulkan do’a kita sementara keadaan kita selalu bergelimang dengan segala hal yang haram? Perhatikanlah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan seorang yang menemui kelelahan dalam perjalanan yang panjang, dalam kondisi seluruh tubuhnya di penuhi debu, lalu dia mengangkat kedua telapak tangannya ke langit sambil berdoa: Ya Tuhanku, Ya Tuhanku. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bagaimana Allah akan mengabulkan doanya, sedangkan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dia dibesarkan dari yang haram?” (HR. Imam Muslim no. 1015)

Dari hadits di atas jelas sekali bagaimana akibat dari menikmati sesuatu yang haram, sekalipun dia dalam kondisi yang sangat membantu supaya dikabulkan doanya. Karena dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa do’a musafir itu terkabul sekali, tapi ada hal yang menghalanginya yaitu memakan harta yang haram. Kisah di atas bisa untuk memperbandingkan dan menilai kondisi kita.

Tapi Allah masih memberikan waktu kepada kita untuk bertaubat, untuk kembali kepadanya, apakah kita akan menunda-nunda taubat itu, sampai azab Allah yang lebih besar lagi datang kepada kita? Mari kita simak firman Allah berikut:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Jikalau Allah menyiksa manusia (sesuai) dengan kezaliman Mereka, niscaya tidak akan tertinggal di atas permukaan bumi ini satupun dari binatang yang melata, tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) Mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba (waktu yang ditentukan), Mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. An Nahl: 61)

Dalam ayat yang lain berbunyi:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً

“Dan jikalau Allah menyiksa manusia dengan segala apa yang Mereka usahakan, niscaya tidak akan tertinggal di atas permukaan bumi ini satupun dari binatang yang melata, tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) Mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba (waktu yang ditentukan), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Faathir: 45)

Simak lagi kalam Ilahi:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ . أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ . أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ . أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Dan jika sekiranya penduduk berbagai negeri mau beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada Mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi Mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka Kami menyiksa Mereka dengan apa yang Mereka usahakan. Maka apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari kedatangan siksaan Kami di malam hari di waktu Mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari kedatangan siksaan Kami pada waktu dhuha ketika Mereka sedang bermain-main? Atau apakah penduduk berbagai negeri merasa aman dari ancaman azab Allah (yang tanpa diduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dari ancaman azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raaf: 96-99)

Itulah janji dan ancaman Allah bagi umat manusia yang tidak mau beriman dan bertakwa, Allah nyatakan pula dalam ayat di atas bahwa kesejahteraan dan kemakmuran hanya dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya. Allah tidak akan mengazab penduduk suatu negeri kecuali Mereka itu telah melampaui batas dalam kezaliman Mereka, baik terhadap diri Mereka sendiri maupun terhadap orang lain. Allah katakan dalam ayat yang lain:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan berbagai negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud: 117)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولاً يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“Dan Kami tidak pernah menghancurkan berbagai negeri kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qashash: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan dalam sabdanya: “Tidaklah seorang hamba ditimpa sebuah bencana baik besar maupun kecil kecuali dengan sebab dosa, dan apa yang dimaafkan Allah jauh lebih banyak.” (HR. At Tirmizi no: 3252) kemudian beliau membaca firman Allah:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu, maka adalah dengan sebab usaha tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu.” (Q.S. Asy Syura: 30)

Yang lebih konyol adalah bila seseorang berpikir bahwa dia mampu lari dari azab Allah, seperti yang beberapa kali terjadi di Kota Padang ketika adanya isu tsunami atau datang gempa Mereka berhamburan keluar rumah dan berusaha untuk mencari tempat yang tinggi seperti lari ke arah Indarung atau ke arah Limau Manis. Sekalipun menyelamatkan diri tidak dilarang dalam Islam. Tapi kalau Allah sudah menentukan sesuatu, kemanapun kita akan lari sebagai makhluk yang lemah lagi hina, cukup dengan tersandung kerikil saja kita bisa mati di tempat. Bukankah seluruh apa yang ada di muka bumi di bawah kekuasaan Allah semata. Kalau Allah berkehendak segala sesuatu bisa membinasakan manusia, seperti angin taufan, air bah, banjir, gempa, ledakan gunung api dan segala macamnya. Sebagaimana kaum Fir’aun diazab dengan taufan, belalang, kutu dan katak. Yang amat perlu untuk dipersiapkan bukanlah kendaraan untuk lari tapi keimanan dan amal saleh serta bertaubat kepada Allah. Jangan kita berprasangka bila umur kita panjang, harta kita banyak, berarti Allah menyayangi kita, sementara kita bergelimang dosa setiap saat. Allah sebutkan dalam firman-Nya:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala Mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada Mereka, Kami bukakan untuk Mereka semua pintu kesenangan, sehingga saat Mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada Mereka, Kami siksa Mereka dengan secara tiba-tiba, maka ketika itu Mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam: 44)

Betapa banyaknya orang kafir yang berumur panjang dan memiliki harta yang berlimpah ruah tapi itu adalah tipuan untuk Mereka. Sebenarnya Allah sangat benci kepada Mereka oleh sebab itu Allah memanjangkan umur Mereka dalam kekafiran, sehingga semakin panjang pula azab yang harus Mereka terima. Dan semakin banyak pula nikmat yang harus Mereka pertanggung jawabkan, maka berlipat gandalah azab yang harus Mereka terima. Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُواْ إِثْماً وَلَهْمُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka bahwa Kami menangguhkan (azab) atas Mereka adalah kebaikan untuk mereka, sesungguhnya kami menangguhkan (azab) atas mereka hanyalah supaya dosa Mereka semakin bertambah; dan bagi Mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali ‘Imran: 178)

Bila Allah menurunkan sebuah azab atas sekelompok umat, Allah tidak akan pilih yang berbuat dosa saja tapi azab tersebut akan menimpa seluruhnya sekalipun orang-orang saleh. Sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila maksiat telah tersebar di tengah-tengah umatku, Allah akan menurunkan azab dari sisi-Nya.” lalu Ummu Salamah bertanya: Ya Rasulullah bukankah di tengah-tengah mereka terdapat orang-orang yang saleh? Jawab Rasulullah: “Ya”. Lalu Ummu Salamah bertanya lagi: “Bagaimana dengan mereka?” Rasulullah menjawab, “Mereka juga ditimpa apa yang menimpa manusia, di akhirat baru mereka mendapat keampunan dan keridhaan dari Allah.” (lihat Majma’ Zawaid: 7/268)

Manusia saat ditimpa suatu musibah atau cobaan terbagi kepada tiga bentuk dalam menghadapi dan menyikapi musibah atau cobaan tersebut:

Bentuk pertama: ada orang dengan datangnya sebuah musibah atau bencana membuatnya kembali kepada Allah, ia sabar dalam menerimanya dan ia bangun dari kealpaannya selama ini, maka hal itu baik baginya sehingga membuatnya bertaubat dan menyesali segala perbuatan dosa-dosanya yang berlalu. Inilah orang yang beruntung saat ditimpa musibah. Orang ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ . أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta dan (kehilangan) jiwa serta (kurangnya) buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (dalam menerimanya). Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, Mereka mengucapkan: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan Mereka, dan mereka itulah orang-orang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 155-157)

Bentuk kedua: ada orang dengan datangnya bencana atau musibah, seketika itu dia tertunduk dan bertaubat kepada Allah, dia berdoa kepada Allah pada setiap saat. Tapi setelah musibah dan bencana itu berlalu ia kembali kepada kedurhakaan kepada Allah, ia kembali melakukan segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran yang biasa dilakukannya sebelum datangnya bencana tersebut. Orang seperti ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَإِذَا مَسَّ الإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِداً أَوْ قَآئِماً فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas memandang baik apa yang Mereka lakukan.” (QS. Yunus: 12)

Bentuk ketiga: ada orang yang ketika ditimpa bencana atau musibah justru semakin bertambah durhaka dan bertambah kufur kepada Allah, dia semakin berjadi-jadi melakukan maksiat dan kemungkaran tersebut. Bahkan dia memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan segala bentuk perbuatan keji dan hina. Apakah itu mencuri, merampok, berzina dan segala macam bentuk maksiat serta manipulasi bantuan yang disalurkan untuk membantu orang-orang yang sedang menderita akibat bencana tersebut. Orang seperti ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada Mereka, maka Mereka tetap tidak mau tunduk kepada Tuhan mereka dan juga mereka tidak mau merendahkan diri.” (QS. Al Mu’minuun: 76). Dalam Ayat lain Allah ungkapkan:

أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوبُونَ وَلاَ هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Apakah Mereka tidak memperhatikan, bahwa Mereka itu diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian Mereka tidak (juga) mau bertaubat dan tidak (pula) mereka mengambil pelajaran?.” (QS. At Taubah: 126)

Maka melalui apa yang kita paparkan di atas bahwa jalan keluar dari bencana dan musibah ini adalah dengan bertaubat kepada Allah dari mengerjakan segala bentuk dosa dan memohon ampunan dari Allah dari dosa-dosa tersebut. kemudian diiringi dengan mengerjakan segala perbuatan yang ma’ruf dan beramal saleh.

Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan membuka baginya pintu keluar (dari berbagai persoalan). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada dikira-kira.” (QS. Ath Thalaaq: 2-3)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan Mereka orang berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum Mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang di ridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan Mereka, dari perasaan (diselimuti) ketakutan menjadi aman sentosa. (selama) Mereka tetap menyembah-Ku tanpa melakukan kesyirikan kepada-Ku sedikitpun. Dan barang siapa yang masih (tetap) kafir setelah perjanjian itu, maka Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Ketika kaum muslimin ditimpa musim paceklik di masa khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia membaca dalam doa yang dipanjatkannya kepada Allah:”Ya Allah sesungguhnya suatu musibah tidak akan turun kecuali dengan sebab dosa, dan tidak akan diangkat kecuali dengan bertaubat.”

Marilah setiap kita melihat pada diri masing-masing di mana letak diri kita dalam melaksanakan perintah dan larangan agama, bila hasilnya selalu terbalik, setiap perintah kita lalaikan dan setiap larangan kita lakukan maka hendaklah kita berputar haluan dari hal yang berlawanan tersebut kepada jalan yang lurus.

Bertaubat Butuh Kepada Beberapa Aspek Penghayatan

Pertama: Meninggalkan perbuatan dosa tersebut dengan spontan.

Kedua: Menyesali perbuatan tersebut dengan sepenuh hati.

Ketiga: Berjanji dengan sepenuh hati untuk tidak akan kembali mengulangi perbuatan tersebut.

Keempat: Mengembalikan hak orang lain kepada si pemiliknya.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

ShareThis

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (1)

Posted: 20 Feb 2009 01:33 AM CST

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Bermacam cobaan dan bencana telah menimpa negeri tercinta ini namun kesadaran masih juga belum kunjung datang pada diri kita masing-masing. Kita masih saling menyalahkan, bahkan kita mengira bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh dosa orang lain. Adapun diri kita sendiri tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Diawali dari kesemberawutan ekonomi dan politik, datang banjir yang menenggelamkan berbagai kota besar di nusantara, lalu musim kemarau panjang dan kebakaran hutan serta kabut yang menyelimuti berbagai daerah, disertai kekurangan pangan dan kelaparan di mana-mana, gempa dan tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh dan beberapa negara lainnya disusul oleh gempa Nias yang memakan korban cukup banyak pula. Masihkah belum cukup untuk kita berpikir dan mengambil ‘ibroh dari segala kejadian tersebut? Kita mengeluh kemiskinan melanda negeri kita tapi parabola menjamur di atas gubuk-gubuk yang hampir reok! Kita mengeluh atas tersebarnya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat, tapi berbagai media informasi dua puluh empat jam menampilkan acara yang berbau porno dan sex (yang diperhalus dengan istilah pornoaksi dan pornografi), yang kesemuanya disantap oleh anak-anak yang baru bisa merangkak sampai kakek-kakek yang sudah pikun. Berbagai berita maksiat tersebar; ada kakek yang memerkosa anak di bawah umur, ada guru SD yang melacur, banyak siswi SMK yang hamil, ada… ada… ada… dan seterusnya.

Kerusakan tidak hanya sampai di situ bahkan sampai kepada titik memperolok-olokkan agama, menghujat Allah, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat al-Qur’an, membikin model ibadah-ibadah baru dan seterusnya. Yang seharusnya pelakunya mendapat hukuman justru sebaliknya mendapat sanjungan sebagai intelektual dan segudang sanjungan lainnya.

Sangat nyata apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab ulah perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian (dari) akibat perbuatan mereka, agar Mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)

Itu hanya sekelumit persoalan yang sedang menimpa negara kita. Tapi pernahkah kita bertanya dan memikirkan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana caranya kita selamat dari bencana ini? Yaitu bencana kehidupan dan keimanan.

Bila dua pertanyaan ini bisa terjawab dengan benar dan baik, maka penyelesaian dan kesembuhan akan bisa diharapkan. Karena dengan mengetahui sebab-sebab penyakit dari situ akan bisa merencanakan terapi yang jitu. Mengetahui sebab-sebab kehancuran supaya dihindari. Kemudian berusaha mencari jalan keluar dari kehancuran ini agar bisa membangun kembali puing-puing yang sudah roboh tanpa mengesampingkan pengalaman pahit yang berlalu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan dalam membangun kehidupan yang baru.

Oleh sebab itu Allah berulang kali menceritakan tentang kaum-kaum yang dihancurkan dalam kitab-Nya yang mulia, supaya umat manusia mengambil ‘ibroh dan pelajaran dari kisah mereka, mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka miskin? Atau karena tidak punya angkatan perang yang cukup? Atau karena sistem politik dan ekonomi Mereka yang lemah? Atau karena hal lain yaitu karena kufur kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta menolak kebenaran yang diturunkan Allah??

Dalam tulisan singkat ini kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sesuai dengan apa yang dituangkan dalam Al Quran dan Sunnah. Karena keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa digapai dengan mengamalkan keduanya, selama penyelesaian tidak berpedoman kepada wahyu Ilahi selama itu pula penyelesaian yang menjadi impian tidak akan datang.

Tulisan ini sebagaiimbauan nasihat dari perantauan ilmu yaitu kota Nabi (kota Madinah) kepada sanak saudaraku di kampung halaman (Ranah Minang khususnya dan Tanah air pada umumnya -ed).

Imbauan Nasihat ini di latar belakangi oleh beberapa hal:

1. Musibah yang tidak putus-putusnya menimpa negara kita tercinta, mulai dari sengketa politik, krisis ekonomi sampai pada musibah tsunami dan gempa Nias.
2. Maraknya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat khususnya di Ranah Minang, mulai maraknya pembunuhan yang lebih menyayat hati seorang anak tega menyembelih ibu kandungnya sendiri, maraknya perzinaan dan perjudian bukan hanya di kalangan masyarakat umum tapi justru sudah merambah ke lembaga pendidikan.
3. Mendangkalnya rasa keagamaan, mulai dari gerakan permurtadan, maraknya perbuatan syirik, kebiasaan meninggalkan shalat dan melakukan praktek-praktek ibadah yang tidak ada dalam Islam.
4. Dan banyak lagi hal-hal lain yang tidak bisa diungkapkan satu persatu dalam pesan ringkas ini.

Imbauan ini sudah lama terbetik dalam hati kami, tapi selalu ragu untuk menulisnya dengan pertimbangan dan alasan ini dan itu; seperti masalah keikhlasan dalam menyampaikan nasihat, masalah masih banyaknya orang yang jauh lebih berilmu di Ranah Minang ini yang lebih berhak untuk berbicara, keberadaan penulis yang jauh dari kampung yang bila bicara akan dianggap tidak mengetahui persoalan kampung. Dan banyak lagi yang selalu menjanggal untuk dimulainya penulisan nasihat ini.

Tapi pada tanggal 7 April 2005 perasaan sedih bercampur haru semakin mengganggu sehingga membuat tidurpun tidak enak apalagi setelah membuka padang ekspres lewat internet, sebuah berita mengejutkan sekaligus mengherankan tentang pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan dikeraskan, disertai iqamah segala. Dengan seketika kami terkesima; “Wah ini memang sudah kebablasan dan tidak tau lagi siapa yang harus diikut dalam beragama, ke mana ulama Ranah Minang yang dulu katanya sebagai gudang ulama?”

Karena takut akan diancam azab Allah, kami mencoba mengikhlaskan niat dan memberanikan diri untuk menulis nasihat ini, sekalipun tidak ada yang mau menerima tapi kewajiban sebagai seorang muslim kami harus menunaikan amanah yang berat ini. Serta mensyukuri rahmat Allah kepada kami yang telah memberi nikmat untuk menimba ilmu dari ulama di kota Nabi tepatnya di Universitas Islam Madinah yang sekarang dalam menyelesaikan S3 di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin -Jurusan Aqidah.

Semoga Allah menjadikannya sebagai nasihat yang ikhlas, dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Kewajiban untuk Saling Menasihati

Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang mewajibkan kita untuk saling menasihati sesama muslim, saat kewajiban ini telah diabaikan maka saat itulah bencana dan kehancuran akan datang, karena sudah tidak ditegakkannya kewajiban ini kebinasaan telah melanda dalam segala aspek kehidupan kita. Saya masih ingat waktu saya kecil bagaimana adanya saling nasihat antara sesama muslim, bila saya ditemui seseorang di tengah jalan atau masih main-main pada jam enam sore, ia dengan spontan menegur: “Oii wa ang ndak ka surau”, saya tidak kenal siapa dia, tapi begitulah kehidupan pada masa itu, semua orang merasakan bahwa anak saudaranya adalah anaknya sendiri yang harus dibimbing dan dinasihati. Begitu pula bila melihat seorang berjalan bergandengan dengan lawan jenis akan disapa dan di tegur bahkan merupakan aib yang amat besar bila dilihat orang kampung berjalan dengan lawan jenis (bukan suami istri). Bahkan orang tua atau mamaknya akan memberikan ganjaran tertentu, seperti ancaman; bila diulangi kalau dia perempuan akan di gundul kepalanya. Begitulah penerapan nasihat dulu di Ranah Minang, tetapi sekarang bila anaknya tidak bisa membawa pacar pulang ke rumah, orang tuanya akan merasa gengsi dengan tetangga. Bila anaknya ditegur dari tindakan yang merusak moral dengan spontan ia akan membanggakan diri dan merasa dihina. Sehingga bila kita menasihati berarti kita telah menghina dan melanggar hak kebebasannya. Sedangkan agama hanya memberi kebebasan dalam melakukan perbuatan yang baik, adapun dalam berbuat kerusakan Islam tidak memberikan kebebasan kepada siapapun, itulah arti kebebasan dalam Islam, bukan sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang kafir yaitu kebebasan hutan belantara.

Berikut kita sebutkan beberapa ayat dan hadits yang mewajibkan untuk saling menasihati dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran;

Firman Allah:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Keberuntungan yang disebutkan pada akhir ayat di atas adalah bersifat umum mencakup keberuntungan di dunia dan keberuntungan di akhirat.

Sebagaimana perintah Lukman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (Mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Dalam ayat di atas ada satu hal yang amat penting untuk di ketahui yaitu rahasia mengapa perintah untuk bersikap sabar setelah perintah untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Karena perintah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki kesabaran, baik dalam menyampaikan kebenaran itu sendiri maupun dalam menerima cobaan dan tantangan dari pelaku kemungkaran. maka oleh sebab itu tidak ada seorang rasulpun yang diutus kecuali mendapat perlawanan dari kaumnya, baik berbentuk perlawanan fisik maupun mental.

Kemudian menyampaikan nasihat sesama muslim adalah ciri-ciri manusia yang beruntung dalam kehidupannya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat- menasihati dengan kebenaran dan saling nasihat-menasihati dengan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Dalam ayat yang mulia di atas ditegaskan bahwa manusia itu merugi dalam sepanjang masa kecuali orang yang mengisi masanya dengan empat hal; yaitu beriman, beramal saleh, memberi nasihat dengan kebenaran dan memberi nasihat dengan kesabaran.

Begitu pula disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Agama itu adalah nasihat, (Beliau mengulanginya ucapan tersebut sampai tiga kali), Para sahabat bertanya: untuk siapa (ya Rasulullah)? Beliau menjawab: Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Imam Muslim no. 55)

Kandungan hadits ini menerangkan tentang wajibnya menyampaikan nasihat dalam agama untuk pemimpin dan masyarakat umum, yaitu dalam hal wajibnya membina kehidupan bermasyarakat untuk taat kepada Allah serta menjunjung tinggi perintah dan hukum-hukum yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasihat untuk Allah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah nasihat untuk menaati perintah Allah dalam segala aspek kehidupan bernegara, baik politik, ekonomi maupun pendidikan, maka pendidikan hendaknya harus mengacu dan memacu untuk mendidik para peserta didik untuk tunduk dan taat kepada Allah, bukan sebaliknya.

Nasihat untuk kitab Allah adalah nasihat untuk menjadikan kitab tersebut sebagai landasan dan pola dalam segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat, baik yang berhubungan dengan hukum ataupun peraturan dan undang-undang.

Nasihat untuk Rasul-Nya adalah menjadikan ajarannya sebagai acuan dalam menunaikan hak dan kewajiban bermasyarakat dan bernegara, baik yang berbentuk hubungan Vertikal antara rakyat dengan penguasa, maupun hubungan Horizontal antar sesama rakyat termasuk hubungan antar umat beragama dalam satu negara, serta menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagai Uswah dalam kepemimpinan.

Adapun nasihat untuk pemimpin adalah supaya Mereka berbuat adil dan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum, melakukan tugas yang diamanahkan Allah kepada Mereka dengan penuh tanggung jawab dan pengorbanan demi kesejahteraan rakyat banyak, bukan sebaliknya untuk kesejahteraan pribadi. Bila Mereka melakukan tugas tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Mereka akan dibalasi dengan balasan yang sangat istimewa pada hari kiamat. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau: Bahwasanya Mereka termasuk salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. (HR. Imam Bukhari no. 628 dan Imam Muslim no. 1031)

Dan Mereka akan ditinggikan di atas podium yang terbuat dari cahaya yang terletak di sebelah kanan Allah. (HR. Imam Muslim no. 1827)

Adapun nasihat untuk kaum muslimin secara umum adalah hendaklah Mereka selalu berbuat ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat. Terutama sekali meninggalkan perbuatan syirik, seperti meminta kepada kuburan, bebatuan, pepohonan dan sebagainya. Serta menciptakan hubungan yang harmonis dengan penguasa. Menaati Mereka dalam segala hal yang ma’ruf untuk mencapai kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Mukmin dan Pohon Kurma (2)

Posted: 17 Feb 2009 09:57 PM CST

6. Pohon kurma disifatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا. Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan dalam riwayat Al Haarits bin Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan lafazh:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ الشَجَرَةِ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ أَتَدْرُوْنَ مَا هِيَ قَالُوا لاَ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ وَ لَا تَسْقُطُ لَمُؤْمِنٍ دَعْوَةٌ

Kami berada bersama Rasulullah pada satu hari, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti permisalan pohon yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa itu?” Mereka berkata: “Tidak” Lalu beliau menjawab: “Ia adalah pohon kurma tidak gugur daunnya dan seorang mukmin tidak gugur do’anya.” (Lihat Fathul Bari, 1/145)

Jadi jelaslah sisi persamaan antara keduanya. Telah dimaklumi doa telah disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaimana firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. 40:60)

Akan tetapi do’a akan dikabulkan dengan kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Terkadang tidak dikabulkan karena tidak sebagian syaratnya atau keberadaan sebagian penghalangnya. Adabnya yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan terkabulnya do’a dan tekad/azam dalam masalah tersebut. (lihat tentang hal ini dalam Jami’ Al Ulum wal Hikaam hal. 368)

Ibnul Qayyim memberikan makna lain terhadap hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan pohon kurma menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur pada musim dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten memakai pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap rabbnya. (Miftah Daris Sa’adah, 1/116)

7. Pohon kurma disifatkan dalam ayat dengan thoyiibah (baik). Ini meliputi baik dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga meliputi baik dalam rasa, buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin memiliki sifat baik dalam segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun bathin. Oleh kerena itu ketika kaum mukminin masuk syurga langsung disambut para malaikat penjaganya dengan menyatakan:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar :73)

Dan firman-Nya:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):”Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Anfaal [16]: 32) serta firman Allah:

إِنَّ اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ

Sesungguhnya Allah mamasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. Al-Hajj: {22]: 23-24)

8. Pohon kurma disifatkan dengan sabda Rasulullah:

إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ

“Sesungguhnya permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu darinya, niscaya bermanfaat bagimu.” (Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, 12/ no.13514 dan Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan: “Sanadnya shohih”). Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memberikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.

9. Pohon kurma memiliki perbedaan mencolok, satu dengan lainnya. Perbedaan dalam bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak hanya satu tingkat dalam kebagusan dan kualitas, sebagaimana firman Allah:

وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَآءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rad [13]: 4)

Demikianlah pohon kurma berbeda dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari sebagian yang lainnya.

Demikian juga keadaan antar kaum mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya dan tidak satu tingkat dalam iman. Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Faathir [35]: 32)

10. Pohon kurma termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan terpaannya serta lainnya dari badai angin. Terkadang menerpanya dan terkadang menggulungnya. Kebanyakan tumbuhan tidak mampu sabar bertahan dari kekeringan air seperti kesabaran pohon kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar dalam menghadapi bala, mala petaka dan musibah. Berkumpul pada seorang mukmin kesabaran dengan ketiga jenisnya, yaitu sabar dalam ketaatan Allah, sabar dari kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Dan firman-Nya:

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: [39]:10)

11. Pohon kurma semakin tua semakin bertambah baik dan tinggi kualitasnya. Demikian juga seorang mukmin jika panjang usianya maka bertambah kebaikan dan amal sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Seorang a’robiy bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang terbaik?” Rasulullah menjawab: “Orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (Sunan Tirmidzi 4/565 dan dishohihkan Al Albaniy dalam Shohih Sunan At Tirmidzi, 2/271)

12. Pohon kurma tidak pernah berhenti memberi manfaat walaupun gagal berbuah. Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan serabutnya untuk kemanfaatan yang banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak pernah lepas dari kebaikan. Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga dari berbuat kejelekan, sebagaimana sabda Rasulullah:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Maukah kalian aku beritahu orang terbaik dari terjelek dari kalian?” Lalu beliau mengulanginya tiga kali. Lalu seorang bertanya: “Wahai Rasulullah beritahulah kami tentang orang terbaik dari terjelek dari kami” Rasulullah menjawab: “Orang terbaik dari kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan manusia tidak aman dari kejelekannya.” (Diriwayatkan Imam At Tirmidziy dalam sunannya no. 2263 dan Ahmad no. 8456 dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’, no. 332)

Imam Ikrimah menafsirkan firman Allah: كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ dengan menyatakan: “Dialah pohon kurma yang senantiasa memberi manfaat.” (disampaikan At Thobariy, 8/205)

Demikian juga seorang mukmin senantiasa memberi manfaat sesuai dengan bagian dan kekuatan imannya.

13. Pohon kurma mudah memetik buahnya, karena pohon kurma terkadang pendek sehingga mudah memetiknya dan terkadang tinggi besar. Walaupun besar masih mudah memanjatnya dibanding memanjat pohon lain yang setingginya, karena terdapat tangga dan tempat memijak sampai ke atas. Demikian juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.

14. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat, karena ruthabnya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan darinya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai obat dan minuman. Kemanfaatannya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki keumuman manfaat dan keanekaragaman kebaikan dan kebagusannya.

Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara, jika seorang memilikinya niscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya dan mencintai seseorang hanya karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.” (Mutafaqun ‘alaihi)

Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: “Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini, karena Allah menyerupakan iman dengan pohon dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

Kalimat di dalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan.” (Lihat Fathul Bari, 1/60)

15. Kesamaan sifat pohon kurma dengan sifat mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan: “Sebagian orang ada yang telah menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat pohon kurma) dengan sifat muslim. Mereka menjadikan setiap manfaat darinya dihadapkan dengan satu sifat muslim. Ketika sampai pada duri pohon kurma, maka dihadapkan kepada sifat keras dan tegas terhadap musuh Allah dan orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan terhadap mereka (para musuh tersebut) seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap mukmin yang takwa seperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah berfirman:

أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

“Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. 48:29) (Miftah dari Sa’adah, 1/120-121)

Oleh karena itu para ulama yang terkenal keras dan tegas dalam membantah orang-orang batil dinamakan duri di leher mereka.

Demikianlah di antara kesamaan yang ada. Para pensyarah hadits ini memberikan beberapa kesamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebagiannya batil. Imam Ibnu Hajar telah meringkasnya di kitab Fathul Bari dengan menyatakan: “Adapun orang yang menganggap letak persamaan antara muslim dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong kepalanya ia akan mati, atau karena pohon kurma tidak berbuah tanpa perkawinan, atau ia mati dengan ditenggelamkan, atau bau putiksarinya seperti mani manusia atau ia minum dari bagian atasnya. Semuanya ini lemah, karena sisi kesamaan tersebut juga untuk seluruh manusia tidak khusus kepada muslim. Yang lebih lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon kurma diciptakan dari tanah sisa penciptaan adam, karena hadits yang menunjukkannya tidak shahih, Wallahu A’laam.” (Lihat 1/147)

Dengan demikian telah kita ketahui iman adalah pohon mubarakah yang memiliki manfaat dan faedah besar serta buah hasil. Iman memiliki tempat khusus penanaman dan siraman khusus, juga memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya adalah hati seorang mukmin, siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun iman yang enam. Sedangkan cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatan yang beraneka ragam yang dilakukan seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan seorang mukmin di dunia dan akherat. Inilah di antara buah dan hasil iman. Wallahu a’lam bis showaab.

Faedah yang Diambil dari Hadits

Di antara faedah yang diambil dari hadits ini adalah:

* Orang yang diberi teka-teki hendaknya memperhatikan indikator yang menunjukkan jawabannya.
* Ujian seorang alim terhadap santrinya tentang sesuatu yang belum jelas dan menjelaskannya jika mereka belum paham.
* Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhari membuat bab untuk hadits ini bab Fahm fil Ilmu.
* Dhorbul Amtsal dan asybah (membuat contoh) untuk menambah pemahaman.
* Tanya jawab.
* Penggambaran makna untuk mengokohkan pemahaman.
* Tasybih sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama dalam setiap sisi.
* Imam memberikan permasalahan kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang dimiliki mereka. (Bukhari).
* Ulama besar terkadang tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang di bawahnya, karena ilmu itu pemberian Allah.
* Malu dianggap baik selama tidak melepas maslahat yang ada.
* Tauqiir (menghormati) orang yang lebih tua.

***

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

Mukmin dan Pohon Kurma (1)

Posted: 17 Feb 2009 09:47 PM CST

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam shahihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no. 61 (1/145-Fathul Baariiy) dan Muslim dalam shahihnya kitab Sifatul Munafiqin bab Mitslul Mukmin Matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawiy)

Syarah Mufradat (Kosakata) Hadits

1. إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ : Terdapat persamaan dan penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang tidak gugur daunnya, yaitu pohon kurma.

2. فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي : Akal pikiran mereka menerawang kepada pepohonan di wadhi. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis pepohonan tersebut, namun lupa dengan pohon kurma. (Syarah Shohih Muslim, 17/152 dan lihat juga Fathul Baariiy 1/146)

3. الْبَوَادِي : bentuk jamak dari Badiyah yang bermakna dataran luas yang ada padanya tumbuhan dan air. (Lihat Mu’jamul Waasith, 1/45)

4. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah.

5. فَاسْتَحْيَيْتُ : sebab malu beliau, karena paling kecil dari para sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Bukhari di kitab Al Ath’imah: “Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang paling kecil.”

6. هِيَ النَّخْلَة: pohon kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga dijadikan sebagai permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan Allah memberikan permisalan kalimat thoyibah dengan pohon ini dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 24-25)

Ibnu Hajar berkata: “Imam Bukhari telah membawakan hadits ini juga dalam tafsir firman Allah:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً

Sebagai isyarat dari beliau bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang tegas dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa bin ‘Uqbah dari Naafi’ dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini dan bersabda: “Apakah kalian tahu pohon apakah itu?” Ibnu Umar menyatakan: “Jelas itu adalah pohon kurma, namun usiaku yang kecil menahanku untuk berbicara.” Lalu Rasulullah berkata: “ia adalah pohon Kurma.” (Fathul Baariiy, 1/146)

Dengan demikian, Pohon yang baik di sini ditafsirkan dengan pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak ulama salaf, di antaranya: Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu Zaid. (Lihat makalah Syaikh Abdirrozzaaq Al ‘Abaad dalam Majalah Al Jaami’ah Al Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 205). Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan dari jalan periwayatan Abdul Aziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ يُخْبِرُنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِيْ السَّمَاءِ

“Siapakah yang dapat menyebutkan kepadaku satu pohon yang menyerupai seorang mukmin, pokok batangnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit?”. (Dibawakan Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy 1/147)

Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki keutamaan, ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat di atas. Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalan seorang muslim menunjukkan ketinggian dan keistimewaannya.

Syarah Hadits

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon kurma. Tentunya hal ini menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya. Memang mengenal dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup, apalagi Allah telah menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)

Di antara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma adalah (sisi kesamaan ini diambil dan disadur dari makalah yang berjudul Taammulaat Fi Mumatsalatul Mukmin Bin Nahlah, tulisan Syeikh DR. Abdurrozaq bin Abdil Muhsin Al ‘Abbaad dalam majalah Al Jaami’ah Al Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 209-221. dengan penambahan dan pengurangan):

1. Pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah amalan saleh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin di dunia dan akhirat.

Imam Ahmad berkata: “perumpamaan iman seperti pohon, karena pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya demikian juga. Sedangkan buahnya adalah sikap wara’ (hati-hati). Tidak ada kebaikan pada pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya sifat wara.’” (As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, 1/316)

Imam Al Baghawiy menyatakan: “Hikmah dari penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan sebagai pohon (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna iman kecuali dengan tiga hal, yaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan anggota tubuh.” (Tafsir Al Baghowi, 3/33)

Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini dalam pernyataan beliau: “Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon di hati, cabangnya adalah amalan dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan nikmat yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan surga tidak terputus dan tidak tercegah mengambilnya, maka buah tauhid dan ikhlas di dunia pun demikian. Adapun kesyirikan, dusta dan riya adalah satu pohon di hati, buahnya di dunia perasaan takut, sedih, duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya di akhirat buah zaqqum dan adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan Allah dalam surat Ibrahim.” (Al Fawaa’id hal. 214-215)

2. Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh karena itulah Allah menamakan wahyu dengan ruh dalam firman-Nya:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syuuro: 52)

dan firman-Nya:

يُنَزِّلُ الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (QS. Al-Anfaal: 2)

Karena kehidupan hakiki bagi hati tidak ada tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia dikatakan mayit walaupun bergerak di antara manusia. Allah ta’ala berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَاكاَنُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (QS. Al-An-’aam:122)

Di sini jelas sekali sisi persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air dan hati seorang mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.

3. Pohon kurma sangat kokoh, sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 24-25)

Demikian juga iman jika telah mengakar di dalam hati, maka menjadi sangat kokoh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kokohnya gunung yang besar menjulang. Imam Al Auzaa’iy ditanya tentang iman, apakah bertambah? Beliau menjawab: “Ya, sampai membesar seperti gunung.” Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: “Ya, sampai tidak sisa sedikit pun.” (Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarah Ushul I’tiqad 5/959)

Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang hal yang serupa dan menjawab: “Bertambah sampai mencapai lebih tinggi dari langit yang tujuh dan berkurang sampai menjadi paling rendah dari bumi yang ketujuh”. (dibawakan oleh Abu Ya’la dalam Thobaqatul Hanabilah, 1/259)

4. Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sembarang tanah, bahkan hanya tumbuh di tanah tertentu yang subur saja. Pohon kurma di sebagian tempat tidak tumbuh sama sekali, di sebagian lainnya tumbuh namun tak berbuah dan di sebagian lain tumbuh berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga tidak semua tanah cocok untuk pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kokoh pada semua hati. Dia hanya akan kokoh pada hati orang yang Allah berikan hidayah dan lapang dada menerimanya. Sehingga pantaslah bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bumi. Ada di antara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada juga ajaadib, menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Mereka minum, mengambil dan bercocok tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii’aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rerumputan. Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) dalam agama dan mengambil manfaat darinya. Ia mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan orang yang tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Pohon kurma tidak dapat bercampur dengan tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat mengganggu dan melemahkan pertumbuhannya serta mengganggunya dalam menyerap air. Oleh karena itu diperlukan perawatan khusus dan selektif dari pemiliknya. Demikian juga seorang mukmin, mesti mendapatkan hal-hal yang dapat melemahkan iman dan keyakinannya. Juga mendapatkan perkara yang dapat mendesak iman dari hatinya. Oleh karena itu diperlukan introspeksi (muhasabah) dalam setiap waktu dan bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan lain-lainnya. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ankabut: 69)

Pohon kurma memberikan hasilnya setiap waktu, sebagaimana firman Allah :

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya.” (QS. Ibrahim: 24-25)

Buah pohon ini dimakan waktu siang dan malam, baik di musim dingin atau di musim panas. Dinamakan dalam bentuk kurma (tamr) atau busr atau Ruthab (Busr adalah kurma yang belum matang menjadi ruthab sedangkan Ruthob adalah kurma matang yang masih belum meleleh atau mengeras). Demikian juga seorang mukmin amalan mereka naik pada pagi dan sore hari. Rabi’ bin Anas menyatakan: “Makna firman Nya: كُلَّ حِين adalah setiap pagi dan sore hari, karena buah kurma selalu dapat dimakan di waktu malam dan siang, baik musim dingin atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga amalan seorang mukmin naik pada pagi dan sore harinya.” (Disampaikan oleh Al Baghowiy dalam tafsirnya 3/33)

Ibnu Jarir Ath Thobary menyatakan dalam tafsir ayat ini: “Pendapat yang rojih menurutku adalah pendapat yang menyatakan, makna كُلَّ حِين dalam ayat ini adalah pagi dan sore, setiap saat, karena Allah menjadikan hasil pohon ini setiap saat dari buahnya untuk perumpamaan amalan dan perkataan seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan basik seorang mukmin diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun atau setengah tahun atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran pendapat ini. Jika ada yang bertanya: “Pohon kurma mana yang menghasilkan buah setiap saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun di musim dingin, maka Thol’ (mayang kurma) adalah buahnya dan di musim panas, maka balkh, busr, Ruthob dan kurma adalah buahnya. Jadi semuanya adalah buahnya.” (Tafsir Thobary, 8/210)

5. Pohon kurma memiliki barakah dalam semua bagiannya. Semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian juga seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ

“Dari Abdullah bin umar beliau berkata: “Ketika kamu duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya seperti barakah seorang muslim’. Lalu aku menerka itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan dia adalah pohon kurma, wahai Rasulullah. Kemudian aku menengok dan mendapatkan aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasulullah berkata: ‘Ia adalah pohon kurma.’” (diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya, 3/444)

Ibnu Hajar berkata: “Barokah pohon kurma ada pada semua bagiannya, senantiasa ada dalam setiap keadaannya. Dari mulai tumbuh sampai kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian setelah itu seluruh bagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sampai-sampai bijinya digunakan sebagai makanan ternak. Demikian juga serabutnya dapat dijadikan sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga barokah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus menerus ada untuknya dan untuk orang lain sampai setelah matinyapun.” (Fathul Bari 1/145-146)

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel www.muslim.or.id